I'm turning 21
Setiap orang pasti sadar akan hari ulang tahunnya, aku pun iya. Pernah suatu waktu aku lupa hari ulang tahunku namun bukan yang tahun ini. Sebenernya aku jelous sama perhatian yang berkurang dari kakakku karena ya memang mungkin seharusnya seperti itu.
H-1. Kebetulan hari sebelum ulang tahunku adalah hari ulang tahun orang tersayang kakakku (Mba Nurul). Yeaah you know then. I'm jelous with who. Memang aku sudah enggak berhak lagi dapat kasih sayang penuh dari semua keluargaku. I know I'm not kid anymore. I'm try to be okay in my b'day. Jadi kakakku dan keluarganya merayakan ulang tahun suaminya di nan jauh tak tau aku. Padahal aku lagi di perantauan yang dekat dengan daerah rumah kakakku.
Aku pikir aku harus ikhlas bakal ngadepin hari ulang tahun pertama kali tanpa keluarga. Aku enggak bisa membayangkan waktu itu. Di umur 21, sendirian dan tanpa ada temen-temen yang tau bahkan aku enggak pernah kasih tau hari ulang tahunku karena memang jatuh pada hari libur. Jadi teman maggang aku (mba Iin) ngga tau kalo Juli adalah bulan kelahiranku. Aku takut, takut kesendirian, takut enggak ada yang kasih perhatian di hari ulang tahun aku, aku takut karena orang tuaku pun di Lampung. Meski pun mereka ingat hari ulang tahunku, dengan teknologi paling canggih era sekarang lah (re: video call) mereka ada buat aku, pikirku begitu.
Tepat pukul 9 pagi aku masih malas-malasan di kamar kos, karena hari itu hari Sabtu. Beberapa menit kemudian mba Iin nyeletuk, "Eh aku arep dolan nyang koncoku di STAN, Arep meru ye?" (Aku mau main ke tempat temen aku di STAN, mau ikut engga Vin?)
Mau ngapain Tan ke sana?
"Dolan, enek acara olahraga neng kono, nonton bal-balan." (Main Vin ada acara lomba olahraga di sana. Nonton tandingan bola.)
Langsung aja aku bergegas mandi dan ikut sibuk siap-siap main.
Kami berangkat dari Jakarta Pusat ke STAN naik kereta jarak dekat. Aku awalnya nggak tau dan hanya ingin lihat-lihat saja dari pada sendiri dan ntah mau ngapain di kamar kos. Waktu pun jauh diluar ekspetasi. Kami berangkat jam 11.00 sampai sekitar waktu ashar. Semua hampir selesai, dan akhirnya kami hanya duduk-duduk di taman STAN setelah sholat ashar. Aku pun jadi tau, daerah yang aku datangi adalah Bintaro. Awalnya hanya mendengarkan curhatan mba Iin ke temannya (Joko). Kami susah banget cari makanan yang sesuai lidah Jogja di Jakarta, dan aku sudah terbiasa lidah anak-anak Jogja. Geprek everyday. Finally setelah semingguan ngga nemu geprek ayam dengan harga normal. Ku makan juga hari itu di belakang kampus STAN Bintaro.
Terbesit di benak sesaat setelah memikirkan kata Bintaro. Guru kesenian aku tinggalnya di Bintaro. Muncul deh niat silahturahmi ke tempat guru aku. Setelah menelfon dan ditelfon, kuputuskan ba'da Magrib aku cuss ke tempat Guru aku.
Kami panggil beliau Bu Ewin, mungkin beliau adalah salah satu guru yang melegenda di sekolah. Awal pertama kali setelah mendengar kisah tentang beliau dari kakakku (Maria) yang pada saat itu aku masih siwa baru di satu sekolah dengan Maria, aku juga ingin bertemu dengan beliau. Maria pernah cerita kalau sebelum pelajaran Bu Ewin pasti selalu ada semacam perbincangan tentang materi hari itu dan kakakku itu suka sekali pada saat sesi seperti itu. Aku bisa tau karena dia hepi banget waktu bicara itu ke aku. Aku juga ingin, punya atau melihat sesuatu yang baru dengan cara Maria. Namun sudah berbagai cara, sudah kupaksakan sampai maksimal untuk diriku berbicara dan mencoba menjawab semua pertanyaan kecil yang sebenernya aku sudah tau jawabannya karena dijelaskan sebelumnya oleh Maria. Lagi-lagi aku kalah dengan diriku waktu itu. Aku tidak berani sama sekali untuk mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan itu. Tapi aku tetap saja ingin perhatian dari guruku. Hingga akhirnya aku pergi dari sekolah, dan ternyata Bu Ewin pun juga keluar dari sekolah, aku merasa hanya sedikit sekali mungkin beliau mengingatku.
OMG!!! Aku terpikirkan untuk ke daerah itu berawal dari plang jalan waktu pergi ke rumah Bu Ewin. Whaaat? Aku melihat tulisan Ulujami di daerah Bintaro. Malam itu aku sadar, sudah terlalu jauh aku main hahahaa.. Hingga aku hubungi ayah dan ibu untuk menanyakan alamat Bude Win. Bude Win adalah salah satu kakak dari ayahku yang memang tinggal di Jakarta. Di hari pertama aku magang, ayah sudah menawarkan untuk main kerumah saudara. Ayah bilang, "Ya besok main-main lah tempat Bude." daan seperti biasa, aku hanya mengiyakan saja. Tanpa ada niatan lebih jauh unutk main ke sana. Karena jauh pikirku dan aku enggak tau cara akses kesana (awalnya). Tapitakdir berkata lain. Aku main sampai Bintaro dan dekat dengan Ulujami. Mungkin itu adalah kesempatan untuk aku menjalin silahturahmi dan yasudah kuputuskan untuk mampir ketempat Bude. Awalnya aku takut, karena ketidakdekatan antara bude dan ponakan karena jarang sekali bertemu dan mungkin dapat dihitung hahaha.. Aku coba beranikan diri untuk main dan bersyukurlah aku lagir di era digital (tahun 1990-2000 an) mudah mengenal teknologi dan sering memakainya. Semoga belum sampai taraf kecanduan gadget deh. Jadi kalau main ke sana dan krik-krik (it's mean ngga tau mau bahas atau ngomong apa ya bisa main hape, cek cek balesan whatsapp dari dosen haha, karena udah enggak jamannya nungguin balesan dari gebetan atau orang yang disuka.)
Aku sempet nyasar ke kompleks perumahan BNI dan waktu menemukan nomor rumah yang dikirimkan ayah, antara ini nyasar lagi apa enggak ya? Kok sepi, (yaiyalah dimana-mana kalo perumahan ya sepi haha). Ya jadi lah ketemu sama sepupu-sepupu, keponakan dan bude aku. Mba Ita dan Mas Bram, dek Rafi Rasya sama yang satunya the cute little girl yang udah pinter karena rajin pakai jilbab kemana-mana dan bertemu dengan Bude. Waktu sampe rasanya lega banget kayak habis nyelesaiin misi, eh ngga tau padahal setelah sampai di lokasi bakalan harus mempersiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin lebih sulit dari soal evaluasi UTS/UAS di kampus. Karena kadang kalau bertemu dengan saudara atau orang yang baru, pertanyaanannya mirip-mirip dan sadis sih. Alhamdulillahnya perbincangan itu seputar kehidupan kuliah, kabar orang tua, kabar kakak yaa perbincangan yang sebelumnya juga disinggung di rumah Bu Ewin. Alhamdulillahnya lagi engga ada pertanyaan sadis tentang uda punya pacar atau ya pertanyaan sensitif lainnya deh. Karena memang muka aku muka-muka anak polos yang tak berdosa yang gimana mau pacaran kalau keluar malem-malem di malem minggu aja langsung sakit hahaha.
Diwaktu makan siang, Mba Iin bilang ke aku kalau dia mau main sama Joko. heem.. rada enggak enak sih karena aku cuekin Mba Iin sampe dia bilang mau main itu. Tapi mau gimana lagi dia ingin main sama Joko, akhirnya aku iya in deh.
Sehabis makan siang, aku diajak nonton Ant Man sama Mas bram dek Rafi Rasya di aku lupa nama Mallnya. Yang jelas deket sama stasiun Kebayoran. Jadi setelah nonton aku rencanain balik ke kos naik krl. Aku hepi banget bisa main sampe sejauh itu dan diajak nonton film, karena buat aku itu refreshing banget dari weekday full jam 8 pagi sampe jam 5 sore di kantor duduk manis di depan laptop. Aku akui seminggu sebelumnya jarang jalan dan lari atau olahraga, jadi kaku semua dan memang butuh refreshing, so thankyou to keluarganya bude udah mau aku repotin dan mas Bram karena sudah ajak aku nonton film hehee.
Kami panggil beliau Bu Ewin, mungkin beliau adalah salah satu guru yang melegenda di sekolah. Awal pertama kali setelah mendengar kisah tentang beliau dari kakakku (Maria) yang pada saat itu aku masih siwa baru di satu sekolah dengan Maria, aku juga ingin bertemu dengan beliau. Maria pernah cerita kalau sebelum pelajaran Bu Ewin pasti selalu ada semacam perbincangan tentang materi hari itu dan kakakku itu suka sekali pada saat sesi seperti itu. Aku bisa tau karena dia hepi banget waktu bicara itu ke aku. Aku juga ingin, punya atau melihat sesuatu yang baru dengan cara Maria. Namun sudah berbagai cara, sudah kupaksakan sampai maksimal untuk diriku berbicara dan mencoba menjawab semua pertanyaan kecil yang sebenernya aku sudah tau jawabannya karena dijelaskan sebelumnya oleh Maria. Lagi-lagi aku kalah dengan diriku waktu itu. Aku tidak berani sama sekali untuk mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan itu. Tapi aku tetap saja ingin perhatian dari guruku. Hingga akhirnya aku pergi dari sekolah, dan ternyata Bu Ewin pun juga keluar dari sekolah, aku merasa hanya sedikit sekali mungkin beliau mengingatku.
Aku hepi hadir di kala itu pada 28 April 2018.Menyambung pada kegalauanku di semester 6 adalah antara datang dan tidak di wedding Mba Nurul yang pada akhirnya aku setor muka pada tanggal 28 April kemarin di gedung pernikahan Mba AS Mas Gilang. Di acara tersebut lah aku sangat senang, double triple dan tak terhingga. Pada hari itu aku ketemu dengan orang yang bahkan enggak nyangka bakal bertemu di sana. Waktu itu aku tidak memakai kaca mataku dan tidak pernah menyiapkan sepasang kontak lens karena pada awalnya berniat untuk tidak hadir di wedding mba As. Sehingga selama acara aku tidak bisa melihat dengan jelas. Dari situ lah moodku mulai turun, aku engga bisa liat keberadaan cogan, enggak bisa lihat saudara dan keponakanku yang lucu-lucu, dan bahkan engga bisa melihat kakakku (Maria) dari kejauhan. I hate this, karena hanya berbicara dan main dengan Mba Maria lah cara untuk membunuh kegabutanku di event sebesar itu. Biasa lagi-lagi sifat introvertku ku jadikan kambing hitam untuk kebiasaan burukku ini. Ketika Mba As mencariku dan Mba Maria, disitulah titik balik moodku (ceilaah titik balik haha). Ketika aku masuk ke ruangan pengantin di sanalah ada perempuan berhijab yang membuat aku dan Mba Maria sempat loading sepersekian detik dan pada akhirnya berteriak
Ms. Ewin!!!Bagaimana bisa aku lupa dengan senyuman khas beliau, meski sempat berpikir sesaat karena beliau sangat muslimah sekali. Aku mulai berpikir akan kembali ke masa SMA, pada saat tidak berani berbicara dengan beliau. Namun dengan tidak memusingkan kata apa untuk jadi bahan pembicaraan, dengan jadi Vina yang seperti biasanya, dengan ketidaktahuan dan dengan ketidakeleganku aku berbincang dengan beliau. OMG! I make conversation with Her!!!! Actually Us (Me and my sisters). But who cares, yang penting aku hepi banget saat itu. Hepi bertemu Beliau. Hepi bisa tukeran kontak dengan beliau. Hepi liatin story whatsapp beliau yang full tentang tulisan-tulisan untuk refleksi diri. Oiya aku juga hepi sempet swafoto bareng beliau dan melakukan kegilaan anak muda jaman sekarang dengan beliau.
Hingga pada 7 Juli 2018, Bintaro Jakarta.Selalu saja ada hal yang baru di setiap pertemuan dengan beliau. tentang teh rasa mint. Selalu ada pelajaran yang didapat dari beliau. Clean and Dry everwhere, integrity, kesadaran tanam-menanam dan nilai-nilai karakter dari beliau yang mungkin belum aku dapatkan ditempat lain. Beliau tidak mengajarkan namun menunjukkan semua itu dari sikap beliau. Tidak ada satu kata pun beliau mengguruiku namun aku dapatkan itu secara enggak sadar dari semua indraku. Ntah aku orangnya tidak asik atau biasa saja, namun beliau tetap hangat dan selalu tersenyum. Selalu ada pembicaraan meski pembicaraan ringan namun aku memiliki keberani untuk berbicara pada waktu itu. Aku tau nilai-nilai kehidupan yang aku dapatkan dengan kesadaranku sendiri (tanpa digurui atau dipaksa) itu mahal harganya. Nah itu aku dapatkan dari Beliau. Terimakasih sekali Bu untuk bersedia aku repotkan hari itu. Ada satu kata yang aku ingat sampe detik ini.
Asal ada kemauan pasti tercapai. Kalau ada mau ya harus diiringi dengan usaha.08 Juli 2018. 06.00 WIB beliau menyuguhkan sarapan yang mana mengingatkanku pada sarapan masa-masa SMA. Roti tawar dengan berbagai selai. Lagi-lagi dikala itu aku ingat rumah. Hemm... memang sih aku berada di rumah. Di rumah Bu Ewin, orang tua aku yang lain. Kenapa aku mengatakan itu. Karena beliau adalah orang tua kami. Orangtua untuk semua murid yang pernah beliau didik. Terimakasih sekali sudah menjadi rumah untuk kami Bu, dan terimakasih sudah bersedia untuk menjadi orangtua kami. Suatu saat aku ingin Ibu adalah salah satu yang bangga akan kesuksesanku. Aku harap aku berani untuk bermimpi lagi dan meraih kesuksesanku. Terimakasih untuk perhatian Ibu yang ditunjukan dari cerita Ibu tentang seseorang yang terjebak di sebuah bagasi mobil di tengah gurun pasir dan bagasi itu tidak terbuka sampai seorang polisi berkata "Kamu berada di kantor polisi dan kamu aman." Sembari memberikan bacaan-bacaan ayat yang sama persis yang dibaca orang itu untuk melindungi diri dari kejahatan.
another voyage..Sekitar 10.00 WIB aku dan Mba Iin sudah pindah posisi di Kampung Tua, Ulujami, Jakarta Selatan.
OMG!!! Aku terpikirkan untuk ke daerah itu berawal dari plang jalan waktu pergi ke rumah Bu Ewin. Whaaat? Aku melihat tulisan Ulujami di daerah Bintaro. Malam itu aku sadar, sudah terlalu jauh aku main hahahaa.. Hingga aku hubungi ayah dan ibu untuk menanyakan alamat Bude Win. Bude Win adalah salah satu kakak dari ayahku yang memang tinggal di Jakarta. Di hari pertama aku magang, ayah sudah menawarkan untuk main kerumah saudara. Ayah bilang, "Ya besok main-main lah tempat Bude." daan seperti biasa, aku hanya mengiyakan saja. Tanpa ada niatan lebih jauh unutk main ke sana. Karena jauh pikirku dan aku enggak tau cara akses kesana (awalnya). Tapitakdir berkata lain. Aku main sampai Bintaro dan dekat dengan Ulujami. Mungkin itu adalah kesempatan untuk aku menjalin silahturahmi dan yasudah kuputuskan untuk mampir ketempat Bude. Awalnya aku takut, karena ketidakdekatan antara bude dan ponakan karena jarang sekali bertemu dan mungkin dapat dihitung hahaha.. Aku coba beranikan diri untuk main dan bersyukurlah aku lagir di era digital (tahun 1990-2000 an) mudah mengenal teknologi dan sering memakainya. Semoga belum sampai taraf kecanduan gadget deh. Jadi kalau main ke sana dan krik-krik (it's mean ngga tau mau bahas atau ngomong apa ya bisa main hape, cek cek balesan whatsapp dari dosen haha, karena udah enggak jamannya nungguin balesan dari gebetan atau orang yang disuka.)
Aku sempet nyasar ke kompleks perumahan BNI dan waktu menemukan nomor rumah yang dikirimkan ayah, antara ini nyasar lagi apa enggak ya? Kok sepi, (yaiyalah dimana-mana kalo perumahan ya sepi haha). Ya jadi lah ketemu sama sepupu-sepupu, keponakan dan bude aku. Mba Ita dan Mas Bram, dek Rafi Rasya sama yang satunya the cute little girl yang udah pinter karena rajin pakai jilbab kemana-mana dan bertemu dengan Bude. Waktu sampe rasanya lega banget kayak habis nyelesaiin misi, eh ngga tau padahal setelah sampai di lokasi bakalan harus mempersiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin lebih sulit dari soal evaluasi UTS/UAS di kampus. Karena kadang kalau bertemu dengan saudara atau orang yang baru, pertanyaanannya mirip-mirip dan sadis sih. Alhamdulillahnya perbincangan itu seputar kehidupan kuliah, kabar orang tua, kabar kakak yaa perbincangan yang sebelumnya juga disinggung di rumah Bu Ewin. Alhamdulillahnya lagi engga ada pertanyaan sadis tentang uda punya pacar atau ya pertanyaan sensitif lainnya deh. Karena memang muka aku muka-muka anak polos yang tak berdosa yang gimana mau pacaran kalau keluar malem-malem di malem minggu aja langsung sakit hahaha.
Diwaktu makan siang, Mba Iin bilang ke aku kalau dia mau main sama Joko. heem.. rada enggak enak sih karena aku cuekin Mba Iin sampe dia bilang mau main itu. Tapi mau gimana lagi dia ingin main sama Joko, akhirnya aku iya in deh.
Sehabis makan siang, aku diajak nonton Ant Man sama Mas bram dek Rafi Rasya di aku lupa nama Mallnya. Yang jelas deket sama stasiun Kebayoran. Jadi setelah nonton aku rencanain balik ke kos naik krl. Aku hepi banget bisa main sampe sejauh itu dan diajak nonton film, karena buat aku itu refreshing banget dari weekday full jam 8 pagi sampe jam 5 sore di kantor duduk manis di depan laptop. Aku akui seminggu sebelumnya jarang jalan dan lari atau olahraga, jadi kaku semua dan memang butuh refreshing, so thankyou to keluarganya bude udah mau aku repotin dan mas Bram karena sudah ajak aku nonton film hehee.
Dimana ada pertemuan, di situ ada perpisahan.Sekitar jam 6 sore aku diantar sampai stasiun Kebayoran dan sekali lagi, dimana ada pertemuan disitu ada perpisahaan. Ah kata ini emang cocok dipakai di segala tempat dan segala situasi. I often use that words to every one that I met and in evey place, tapi pada orang yang sudah seperti teman sendiri. Kalau sama orang baru dikenal atau belum deket ya udah otomatis smile and say thank you so much. Tapi actually I hate that situation, too easy meet people but too difficult to leave it. Tapi aku ya selama kita berteman dengan kehidupan, mau gimana lagi, kehidupan menawarkan waktu yang enggak bisa berhenti. Kalau waktu berhenti maka kita pisah dengan kehidupan itu sendiri. It's mean you're in peace forever. Jadi aku melanjutkan perjalananku.
Me timeTeman aku (Mba Iin) dia pamit pulang duluan sebelumnya, karena yaa waktu nonton terlalu lama dan selesainya terlalu sore menurut kami, jadi kami memutuskan bahwa mba Iin pulang duluan dan telah sampai duluan di kos. Itu membuatku menikmati kesendirianku. Jadilah Me time yang galau gitu. Aku Sempat berpikir kala itu. "Ini hari apa sih? hari minggu, Hari ulang tahunku, tapi yang tau hanya Ayah, Ibu dan mba Nurul mba Maria aja. Semua orang yang aku temui nggak ada yang tau kalau aku genap 21. Mungkin peristiwa berkurangnya umurku tidak perlu diketahui orang lain, dan perjalanan hari itu adalah kado dari Tuhan untuk aku, karena kalau Tuhan nggak mengizinkan mana ada aku main yang berujung pada silahturahmi dadakan ke rumah Bu Ewin dan Bude Winarnie. Tuhan baik sama aku, di ulang tahun ke 21 tak ada keluarga di sekitarku yang biasanya setiap ulang tahun mereka sekedar mendoakan atau merayakan ulang tahunku atau menyiumku atau sekedar bercanda tawa. Aku hepi tanpa ada perayaan at least ada keluargaku didekatku. But I'm not kid at all, aku harus belajar melewatkan hari ulang tahunku tanpa mereka. Setidaknya aku mendengar dan meluhat wajah mereka di hari 21 tahunku ini. Aku ngga pandai dalam hal ini, sendiri di hari ultah. Dulu pun aku hampir sedih seperti di hari 21 ku ini. Sempat di ultahku yang ke 17 hampir saja aku ulang tahun sendirian karena waktu itu jauh sekali dari keluarga. Namun ada berita duka, bahwa kakek aku meninggal di hari sebelum ulang tahun aku dan ayah ibu kakak pada datang dan aku tidak sendiri di ulangtahunku itu. Aku tak masalah tanpa perayaan, yang sedih adalah aku sendirian di hariku. Tapi di 21 ku ini, Tuhan masih sayang sama aku karena pengalaman ini.
Kebiasaan lama, jalan cepat di waktu yang tidak tepat.Kebiasaan lamaku mulai ada kembali. Sepulang dari stasiun menuju kos, aku berjalan dengan cepat sepertinya. Sendiri memang membuatku berjalan lebih cepat. Karena sendiri berarti tak ada teman ngobrol. Pukul 7 malam aku dalam perjalanan menuju kos dengan bayangan dan rencana ingin mandi, cuci baju dan bebenah kamar lalu istirahat melemparkan badan ke kasur. Ketika sampai kos aku mendengar suara-suara yang tidak jelas terdengar dari dalam kamar, berisik dan aku sudah tak peduli karena ingin cepat-cepat mandi. Namun apa daya, keinginan hanya tinggal keinginan dan rencana pun jadi wacana. Lelah menaiki tangga kos aku berteriak Assalamualaikum untuk melampiasnkannya.
Almost cry..Ketika aku membuka kamar kos yang tiba-tiba sepi setelah salamku, disana ada teman magangku. Mba Iin dan partner kampus si Arif yang udah standby ditempatnya masing-masing. Untuk pertamakalinya surprise party dari temen and surprisngly I'm surprised. Karena emang enggak ada yang tau ulang tahunku apalagi di kalangan temen-temen karena I never celebrate my b'day in front of them. Lahir di bulan libur sekolah ngebuat perayaan ulang tahunku sepesial di sepanjang sejarah pertemanan dengan kalangan anak-anak kece penerus bangsa tanah air. Oke intinya aku kaget karena ya sepengetahuanku mereka ngga tau my 21. Di situ lah aku mau nagis ngerekgek karena kaki udah gempor berdiri dari kebayoran sampe Kramat dan jalan hampir 1 kilometer. Oiya satu lagi, dengan gendong kamera yang engga kepake sama sekali selama petualanganku di Bintaro. Kagetnya lagi di pojokan nongol kepala-kepala pejuang magang, kkn dan pemburu perusahaan sawit tercover di satu hapenya mba Iin. Ternyata mba Iin video call sama anak-anak PPI. Temen-temen aku di kampus. Thank you so much buat anak-anak PPi yang luar biasa karena inget ultah aku. yang giftnya udah disiapin jauh-jauh hari sebelum pada pisah. Di surat tulisannya si 25 Juni ya. Thank you udah buat aku mau ngerengek alias teriak karena kaget kelelahan dan terharu tercampur aduk sudah perasaanku.
Semoga doa dan harapan orang-orang ke aku di dengar dan dijabah oleh Allah.
Thank you to
Ayah Ibu pagi subuh udah jadi the first via video call
Mba Nurul yang mamerin liburan bareng mas Gilang yang meninggalkanku sendiri haha
Mba Maria yang buat story ala ala ucapan b'day to me di ig story dengan foto cengengku waktu TK dan nge tag aku pula
Thank you buat Bu Ewin, Bude Win, Mba Ita mas Bram dan yang lainnya yang udah mau aku repotin dan telah meluangkan waktu buat aku.
Makasih juga buat Joko, temen mba Iin yang akhirnya nunjukin warung ayam geprek di Jkt dan akhirnya lagi aku dan mba Iin makan ayam geprek setelah mendambakannya.
Thank you to mba Iin partner satu kamar dan patner magang di Geosurvey yang juga anggota PPI yang udah repot-repot bikin aku mau nagis ngerengek.
Thank you juga potografer dadakan, patner magang lainya si Arif.
Thank you yang pada ngucapin dan buat aku hepi di hariku
Officially I'm 21








Komentar
Posting Komentar