ROC # Reproduction of calmness but actually not calm at all :D

Pernah tau rasanya sulit untuk menulis? Padahal banyak banget topik yang belakangan ini aku rasaain dan seru untuk dibahas dan banyak banget hal yang membuat aku penasaran. Pun juga ada kewajibanku yang harus aku tuangkan dalam bentuk tulisan (ups). Tapiiii tau ngga sih rasanya merasa kurang membaca, merasa aku harus ini itu, merasa pokoknya ada aja yang kurang sehingga aku sulit menulis. Merasa bodoh emang amat sangat sulit, apalagi saat dimana sadar akan merasa bodoh, itu amat sangat sulit lagi untuk mengontrol diri ini berani dalam mengambil tindakan. 
Detik ini aku teringat kembali masa dimana pertama kali diharuskan mengisi buku Halo dan dikumpulkan setiap minggu kepada guru bahasa. Iya itu sekitar kelas 10 SMA. Awal tulisan pertama yang kutulis pada buku itu adalah kebingunganku tentang apa yang harus kutulis. Aku menceritakan kenapa aku tak bisa menulis kala itu, aku tak punya ide, curhatan-curhatan tentang apa yang menghambatku tidak bisa menuangkan ide dari kepalaku. Secara tak sadar curhatanku kala itu sudah mendapatkan setengah halaman, dimana setengah halaman itu adalah syarat minimum untuk aku bisa mengumpulkan buku halo ke guru bahasaku. Seminggu kemudian kudapati tulisan yang entah itu masuk kategori pujian atau selamat atas berhasilnya aku dalam mengisi buku Halo secara tak sadar  dengan curhatanku yang tak bisa menulis namun menghasilkan tulisan setengah lembar kala itu dari guru bahasaku. 

Andai menulis saat ini sesimpel itu. Andai aku dapat mengatur rasa ini, doakan aku untuk bisa kembali menulis. Meski aku hanya manusia biasa dan bukan penulis aku harus percaya ini. Ada yang bilang, penulis merdeka adalah ia yang bisa tetap menulis dalam keadaan dan suasana apapun.

*******
Emang cuma sama Allah kita bisa ngeluh, bersyukur, bagi cerita, meminta dan segala urusan yang berkaitan duniawi. Itu baru dunia, akherat pun tentu hanya berharaplah kepada Nya dan kekasih Nya (Muhammad SAW). Ntah ada yang bilang semakin kamu berada di titik yang terendah, hanya berdua meminta kepada Tuhan lah nikmat sesungguhnya. Mungkin aku saat ini ngga berada di titik terendah seperti orang lain tapi titik sulitnya melawan diriku sendiri, aku yang lagi mencoba melawan diriku sendiri ini pun tak bisa meminta bantuan pada siapa-siapa. Kepada teman apa lagi. Mereka juga punya kesibukan masing-masing. Ada pula yang bilang, yang bisa melawanmu adalah dirimu sendiri. Aku hanya tersenyum kala itu.

Oiya ah ngga tau deh aku takut... Iya aku banyak mengaduh belakangan ini. Sorry ya, it's really anoyed. But I still learn how to control it. Jadi yaudah deh gitu aja. Eh bukan berarti aku tak mau berbagi ceritaku, banyak banget keindahaan Jogja yang aku ingin bagikan, banyak banget hal baik yang ingin aku bagikan. Tapi daripada bercuap-cuap panjang lebar, saat ini yang harus aku lakukan adalah fokus melawan diriku sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raining Season

Old Article

Just New Hobby