ROC #12 excuse
Sebelum bulan Juli ini berakhir, aku mau bilang, aku bersyukur banget bisa hidup sampe detik ini. Mungkin aku tipe orang yang suka menyibukan diri sendiri tanpa tau itu penting dan prioritas buat aku. Aku hobi banget dan pasti nagih kalo disodorin buku atau novel nonfiksi di deket aku. Ketika itu aku akan lupa semua hingga pernah suatu waktu aku lupa tugas dan kewajibanku sebagai mahasiswa dan yaaa aku dan sebagian orang menyebutnya "excuse". Karena itu aku putuskan bahwa aku menghindari kartu perpus yang aku punya. Semakin sering ku gunakan, semakin sering pula aku bertemu buku nonfiksi itu. Kini, sudah hampir dua bulan ku menjauhi itu. Kupikir bakalan sedih dan sepi. Namun aku punya teman yang unik di jagad Indonesia ini. Mereka secara tak langsung ngebantu aku buat sedikit ingat denga tugasku sebagai mahasiswa. Semakin ke sini, aku ngerasa sadar akan, aku tidak sendirian meski aku selalu sendiri.
Kini engga hanya sosok teman yang ngebuat aku engga merasa sendiri. Kini banyak tempat di sudut Jogja yang menawarkan keanekaragaman kegiatan. Tinggal pilih mau macam yang seperti apa. Selama bulan ini aku menemukan tempat-tempat sudut Jogja yang menyuguhkan keindahan islaminya. Begitu banyak tempat yang memfasilitasi jamaah muslim dengan durasi waktu 24 Jam. Beberapa masjid ramah dengan orang penyendiri seperti aku. Karena ramahnya suasana dan lingkungan tempat itu, aku merasa tak sungkan untuk datang sendiri. Kebaikan jamaah dan antusias mereka untuk pergi ke majelis ilmu serti itu, membuat aku nyaman untuk datang seorang diri. Bahkan beberapa kali aku mendapat kenalan baru. Banyak dari tempat itu memberikan sesuatu yang membuat aku takjub yang tak pernah kuduga sebelumnya. Seorang ibu yang baik membagi sajadahnya kepadaku untuk sujud, seorang kakak perempuan dengan senyumannya menawarkan kisah dan informasi tentang Qari yang aku suka, seorang mahasiswi yang berada di semester akhir sepertiku dengan keikhlasanya dalam menuntut ilmu di kajian, seorang ukhti yang baik dengan secara langsung menunjukan tata cara solat yang benar, maba yang luar biasa semangat keislamannya ditahun ajaran baru ini, dan masih banyak kebaikan-kebaikan dari saudara sesama muslim dan muslimah. Enggak cuma itu, semakin sering kusempatkan untuk datang ke suatu majelis ilmu, semakin lama waktu yang aku rasakan dalam 24 jam. Melihat dan mendengar tausiah ustadz dan ustadzah adalah candu lainku. Namun mereka dititipkan oleh Allah, ilmu yang harus disampaikan kepada orang seperti aku. Kenapa akhir-akhir ini aku sering bolak-balik seperti menyibukan diri sendiri, karena bagiku sama seperti pelajaran, semakin sering kita dengar dan lihat, semakin lekat lah sesuatu itu di hati dan otak kita.
Sungguh mulia sekali orang yang memakmurkan masjid dan orang yang menpersilahkan tempatnya untuk berdakwah. Aku berterimakasih sekali pada temanku yang mengundangku di kelompoknya. Dari sana adalah sumber hilang rasa capekku. Ketika aku lelah di sore atau malam hari, Allah menggerakkan hatiku untuk datang ke majelis ilmu. Seketika lelahku hilang, kemudian bahagiaku datang. Mungkin benar kata orang, sebagai manusia kita perlu mencharge iman kita. Dan engga cuma itu, aku masih bisa bertemu dengan temanku di jagad kampus dan teman jagad Lampung. Meski hanya sejam dua jam, namun bertemu mereka juga pun bertambah wawasanku. Mulai dari dunia batuan, mesin, tanah, tanaman, sudahlah berbagai bidang yang membuat aku bertanya-tanya "makanan jenis apa itu?" sehingga mereka dengan sabar menjelaskan padaku. Bertemu dengan mereka serasa membaca berbagai buku. Karena meeka secara langsung ataupun tidak, nantinya aka menceritakan apapun padaku. Ditambah lagi dengan berbagai ekspresi yang ditunjukkan.
Jika semangat datangnya dari hidayah Allah, maka kemalasan sesungguhnya dari bisikan setan. Tak jarang aku terbujuk bisikan setan, aku masih dan akan selalu tergoda oleh bisikan itu, namun atas izin dan perlindungan Allah aku dapat kebahagian ilmu itu. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Pelindung.
Semakin jauh, aku semakin yakin, bahwa aku bukan sekedar Arvina, pasti ada sesuatu yang ada di diriku. Kenapa aku menjadi kemarin dan kenapa aku menjadi sekarang, bahkan kenapa aku menjadi yang di masa depan. Everything happen for reason. Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat sekenario. Mungkin ada banyak jenis Arvina diluaran sana, ada banyak jenis Arvina yang malas, Arvina yang penasaran dengan sesuatu, Arvina yang senang suasana yang berbeda-beda, Arvina yang takjub akan sekenario Allah. Namun aku masih belum menemukan Arvina yang sama saat ini. Ketika aku berbicara A namun banyak yang belum paham dan acuh tak acuh mendengarkan penjelasanku tentang A. Awalnya aku marah, sebel dan merasa tak didengar. Namun semakin jauh aku pergi dan mencari, semakin luas dan semakin biasa saja aku menyikapi atas perbedaan dan ketidaktahuan lawan bicaraku. Karena aku tau, semakin aku terus mencari, pasti aku akan menemukan partner yang baik untuk aku. Ada yang bilang, "Ketika kamu belum menemukan partner sharing yang pas dan sama, jangan lelah mencari partner yang membuat kamu betaqwa. Karena sebenarnya mereka banyak diluaran sana, namun hanya belum dipertemukan saja."
Kedekatan seseorang dengan orang lain itu karena ada sebuah kesamaan dan tujuan. Yang tadinya hanya sekedar "say Hi!" di koridoor jagad, jadi menjalin kedekatan karena kesamaan itu. Sungguh Maha Besar Allah, menggerakan hati-hati manusia untuk satu tujuan yang sama. Sungguh aku berterimakasih dan bersyukur atas rahmat dan hidayah Tuhan pada manusia.
Kata orang, sendiri kita maksiat, bersama kita semangat. Jadi mohon bantu ingatkan dan ajak aku ketika aku mulai lalai, ketika aku mulai jauh dengan majelis ilmu, dan ketika tertutup mata hatiku.
Komentar
Posting Komentar